Beberapa hari lalu ketika saya buka email,ada sebuah perbincangan ramai disalah satu milis yang saya ikuti. Melihat banyaknya komentar saya jadi penasaran tuk lihat. Perbincangan ini diawali dari tulisan seorang sahabatĀ yang mengkritisi tentang kebijakan pemerintah terhadap panjualan saham indosat. Dari tulisan tersebut ternyata menyinggung beberapa teman-teman lain yang bekerja diinstasi pemerintahan. Lah dari sinilah akhirnya ada saling balas tulisan yang banyak sekali isinya sangat mengusik pikiran saya.
Saya disini tidak akan menyoroti tentang perpindahan saham indosat,kebijakan pemerintah dan sebagainya. Saya hanya ingin mengingatkan teman-teman kembali bahwasannya kebebasan berpendapat adalah hak setiap orang yang dilindungi oleh UUD 45. Dalam undang-undang tidak pernah dijelaskan tentang siapa dan profesi apa yang boleh mengeluarkan pendapat. Jadi gak ada salahnya donk meski kita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ikut urun rembug mengkritisi kebijakan pemerintah.
Sekalipun saya sebagai ibu rumah tangga dan saya yakin ibu-ibu yang lain juga,pekerjaannya tidak hanya menggosip dan nonton gosip seperti strereotip negatif yang dilekatkan pada profesi ini. Kami juga tetap belajar,selalu mengikuti perkembangan baik masalah sosial,politik dan ekonomi(apalagi yang berkaitan dengan kenaikan harga gak kan ketinggalan hehehe). Jadi pengetahuan kami tidak hanya sebatas pada bumbu dapur sehingga harus dipertanyakan ketika kita mengemukakan pendapat tentang isu-isu hangat dalam kehidupan bernegara.
Klo ditanya apa karya kami sehingga berani mengkritik??? Wah banyak banget…bukankah mempersiapkan generasi-generasi mendatang adalah sebuah megaproyek. Coba anda bayangkan jika semua ibu-ibu menelantarkan pendidikan anaknya???apa yang akan terjadi dengan calon-calon pemimpin ini dimasa depan. Mungkin banyak dari anda yang tidak tahu,banyak sekali ibu-ibu rumah tangga yang dapat membuka lapangan kerja bagi lingkungannya walaupun dalam skala kecil,sebagai contoh diberau ini,beberapa teman yang punya modal menyediakan barang kemudian mengajak teman-teman lain untuk memanfaatkan waktunya memasarkan barang tersebut. Ini memang hal sederhana banget tapi perputaran ungnya lumayan gede lho…klo tidak percaya silahkan hubungi saya di Japri,akan saya tunjukkan hitungan realnya.Bukankah ini juga suatu bukti sebuah karya dalam hal pemberdayaan ekonomi dilingkungan sekitar. Jadi jangan beranggapan remeh tentang profesi ibu rumah tangga,ntar didemo lho…hehehe
Ya mulai sekarang marilah kita belajar bijak, jika memang ada kritik janganlah kita anggap sebagain celaan tapi sebagai bahan intropeksi. Dengan demikian kita akan menjadi lebih baik. Gunakanlah kritik sebagai alat membangun diri. Tidak usahlah kita melihat ato menanyakan apa dan siapa yang mengeluarkan pendapat itu.Ato klo mo simpel ya klo memang baik kita gunakan klo gak biar aja berlalu(masuk telinga kanan keluar telinga kiri) mudah bukan….???
To lovie…salut deh meski sebagai ibu rumah tangga yang lagi berjuang di negeri orang kamu tetep konsen dengan permasalahan bangsa ini,semoga masih tulisan kritis kamu yang beredar.
Recent Comments