Posted by: mastinmaya | November 22, 2008

HARGA SEORANG ANAK

Sudah lama banget nih gak nulis…tulisan ini terinspirasi dari sebuah acara yang diadakan oleh HR dan Persatuan Istri Karyawan(PERISKA) PT Berau Coal,tempat suami saya bekerja. Acaranya seminar tentang pola pengasuhan anak. Saat Bu Irene ,yang mengisi acara bertanya terhadap peserta seminar “barapa harga anak anda…???”saya hanya tersenyum menganggap hal itu sebagai joke namun penjelasan dibelakang pertanyaan itu membuat saya berpikir dan merefleksikan kembali tentang arti dan ukuran kasih sayang terhadap anak.

Jika mendapat pertanyaan seperti diatas, kita akan langsung menjawab “ANAK SAYA TAK TERNILAIĀ  HARGANYA…”.Coba sekarang kita refleksi kembali bagaimana kita memperlakukan buah hati kita selama ini…benarkah kita sudah menjadikan mereka permata hati yang benar-benar tak ternilai dalam kehidupan kita atau tak ternilai itu berarti tak ada nilai apa-apa bagi kita..:-)

Kita eh maaf saya maksudnya,sering sekali mengalahkan kepentingan anak dengan hal-hal yang sebenarnya bis tunda.Misalnya ketika razan ingin dibacakan buku cerita atau ditemani nonton TV,saya akan tinggalkan dia sebentar apabila HP saya berbunyi untuk menjawab telepon atau membalas SMS yg tiba-tiba masuk,padahal hal itu bs dilakukan setelah menuntaskan bacaan lebih dulu. Atau apabila dia memecahkan gelas atau piring,saya akan marah..coba ada tetangga yang memecahkan piring saya,saya hanya akan berkata oh..gak papa,itu hanya sebagian contoh kecil saja,hayo ngaku ada yang sama gak…:-)

Hal yang sangat ekstrim,kita eh maaf salah lagi,saya maksudnya,kadang dengan mudah untuk memutuskan membeli perabot,perhiasan,tas,pakaian,kadang mainan juga yang harganya ratusan ribu bahkan sampai jutaan.Tetapi untuk membelikan kebutuhan anak akan pendidikan seperti buku-buku,ensiklopedi atau lainnya, kita,eh kita lagi,saya harus berpikir agak lama untuk memutuskan membeli,kadang-kadangpun dengan menggerutu berkepanjangan apabila sekolah mewajibkan hehehe.Padahal aneka media pendidikan tersebut sangat berarti bagi anak-anak tersebut.Media-mediat itu adalah alat untuk dia meraih ilmu yang menjadi bekal dia bertahan hidup kelak.

Dari contoh-contoh diatas jelas sekali kepentingan anak-anak terkalahkan oleh hal-hal yang semestinya tidak menang.Jika memang begitu adanya,lalu dimana letak harga tak ternilai bagi seorang nak???

Hari itu saya disadarkan dan mulai kembali belajar mengubah kebiasaan dalam mendampingi anak saya belajar dan membuat skala prioritas kepentingan.Semoga dengan berbagi tulisan ini,teman-teman yang seperti saya(dulu…) bisa terbuka juga dan kembali kejalan yang benar:-) Agar lebih menghayati dalam merefleksikan sikap kita kepada anak bisa dengan mendengarkan lagu dari MOCCA yang judulnya hanya satu pintaku:-)

p1010048

Tuk razan…maafin bunda ya,jika selama ini sering mengesampingkan kamu,bunda janji,insya allah bunda akan menempatkan kamu menjadi permata hati bunda.

Bunda akan mendampingi dan memberikan semua media belajar yang kamu butuhkan.Semoga kamu menjadi generasi yang berakhlaq,tangguh,mandiri dan berpengetahuan sebagaiman doa yang kami titipkan dalan nama kamu “Razan Widya Reswara”..amin…

Posted by: mastinmaya | June 22, 2008

Ibu Rumah Tangga…SO WHAT GITU LHO!!!

Beberapa hari lalu ketika saya buka email,ada sebuah perbincangan ramai disalah satu milis yang saya ikuti. Melihat banyaknya komentar saya jadi penasaran tuk lihat. Perbincangan ini diawali dari tulisan seorang sahabatĀ  yang mengkritisi tentang kebijakan pemerintah terhadap panjualan saham indosat. Dari tulisan tersebut ternyata menyinggung beberapa teman-teman lain yang bekerja diinstasi pemerintahan. Lah dari sinilah akhirnya ada saling balas tulisan yang banyak sekali isinya sangat mengusik pikiran saya.

Saya disini tidak akan menyoroti tentang perpindahan saham indosat,kebijakan pemerintah dan sebagainya. Saya hanya ingin mengingatkan teman-teman kembali bahwasannya kebebasan berpendapat adalah hak setiap orang yang dilindungi oleh UUD 45. Dalam undang-undang tidak pernah dijelaskan tentang siapa dan profesi apa yang boleh mengeluarkan pendapat. Jadi gak ada salahnya donk meski kita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ikut urun rembug mengkritisi kebijakan pemerintah.

Sekalipun saya sebagai ibu rumah tangga dan saya yakin ibu-ibu yang lain juga,pekerjaannya tidak hanya menggosip dan nonton gosip seperti strereotip negatif yang dilekatkan pada profesi ini. Kami juga tetap belajar,selalu mengikuti perkembangan baik masalah sosial,politik dan ekonomi(apalagi yang berkaitan dengan kenaikan harga gak kan ketinggalan hehehe). Jadi pengetahuan kami tidak hanya sebatas pada bumbu dapur sehingga harus dipertanyakan ketika kita mengemukakan pendapat tentang isu-isu hangat dalam kehidupan bernegara.

Klo ditanya apa karya kami sehingga berani mengkritik??? Wah banyak banget…bukankah mempersiapkan generasi-generasi mendatang adalah sebuah megaproyek. Coba anda bayangkan jika semua ibu-ibu menelantarkan pendidikan anaknya???apa yang akan terjadi dengan calon-calon pemimpin ini dimasa depan. Mungkin banyak dari anda yang tidak tahu,banyak sekali ibu-ibu rumah tangga yang dapat membuka lapangan kerja bagi lingkungannya walaupun dalam skala kecil,sebagai contoh diberau ini,beberapa teman yang punya modal menyediakan barang kemudian mengajak teman-teman lain untuk memanfaatkan waktunya memasarkan barang tersebut. Ini memang hal sederhana banget tapi perputaran ungnya lumayan gede lho…klo tidak percaya silahkan hubungi saya di Japri,akan saya tunjukkan hitungan realnya.Bukankah ini juga suatu bukti sebuah karya dalam hal pemberdayaan ekonomi dilingkungan sekitar. Jadi jangan beranggapan remeh tentang profesi ibu rumah tangga,ntar didemo lho…hehehe

Ya mulai sekarang marilah kita belajar bijak, jika memang ada kritik janganlah kita anggap sebagain celaan tapi sebagai bahan intropeksi. Dengan demikian kita akan menjadi lebih baik. Gunakanlah kritik sebagai alat membangun diri. Tidak usahlah kita melihat ato menanyakan apa dan siapa yang mengeluarkan pendapat itu.Ato klo mo simpel ya klo memang baik kita gunakan klo gak biar aja berlalu(masuk telinga kanan keluar telinga kiri) mudah bukan….???

To lovie…salut deh meski sebagai ibu rumah tangga yang lagi berjuang di negeri orang kamu tetep konsen dengan permasalahan bangsa ini,semoga masih tulisan kritis kamu yang beredar.

Posted by: mastinmaya | May 15, 2008

BIARKAN MEREKA BELAJAR DALAM BERMAIN

Setiap kali saya mengantar razan(putra saya) kesekolah,saya selalu mendengar keluh kesah ibu-ibu lain”kenapa sih dari tadi bernyanyi dan menari terus??”kapan ya..anak-anak ini dikenalkan huruf,angka,belajar membaca…”.Semuanya seolah menyalahkan sistem pendidikan yang diterapkan diPAUD(Pendidikan Anak Usia Dini) tempat anak-anak belajar.Rupanya banyak sekali teman-teman ini yang lupa bahwa PAUD atau lebih kerennya play group adalah taman bermain,dimana anak-anak belajar dalam bermain.

Melihat keresahan banyak teman tentang “proses belajar” anak-anak mereka yang masih dibawah 3tahun dan target-target mereka terhadap prestasi akademik anak membuat saya teringat 2 buah buku yang sangat bagus untuk masukan bagi orangtua baru dalam mendidik anak,yaitu Totto Chan “gadis cilik didepan jendela” dan Enstein Tak Pernah Menggunakan Flash Card( (maaf klo ada penulisan judul yang salah karena sudah lama banget bacanya:-)). Dalam kedua buku tersebut,dikatakan seringkali para orang dewasa terjebak dalam iklan atau slogan “bisnis pendidikan” sehingga mereka melupakan tujuan dari proses pendidikan itu sendiri. Seringkali kita panik ketika melihat si A sudah bisa menghapal huruf atau si B sudah bisa berhitung sedangkan buah hati kita belum sehingga kita menekan buah hati kita untuk secepatnya menguasai kemampuan-kemampuan anak lain dari mulai les,sekolah elit,segala bentuk flash card dan segala beban belajar yang melelahkan. Kita jadi dibutakan oleh iklan-iklan tentang kriteria anak sehat,anak cerdas,anak pintar atau slogan slogan lain. Kita lupa bahwa setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda,mereka punya keistemewaan masing-masing. Kita lupa bahwa anak-anak mempunyai kemampuan belajar secara alami yang luar biasa…bukan kah ketika bayi mereka bisa merangkak,berdiri,berjalan,memahami bahasa kita dan berbicara dengan sendirinya,bukankah hal ini merupakan bukti bahwa setiap anak mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.Mungkin ada anak yang sekali belajar sudah mengerti tapi ada yang butuh berkali-kali baru menguasai,bukankah orang dewasa juga seperti itu,sebagai contoh,ada yang cukup sekali membaca sudah memahami isi buku tapi ada yang membutuhkan 2 atau 3 bahkan 10 kali membaca baru memahami isi buku. Seandainya semua orang dewasa memahami hal ini,maka anak-anak tidak perlu ditekan dengan beban yang berat.Pada waktunya mereka akan menguasai semua hal dengan baik dan seiring dengan waktu mereka juga akan belajar bertanggung jawab sebagaimana kita memberikan contoh.

Jadi jangan terlalu stress apabila selama di PAUD atau play group mereka hanya belajar bernyanyi,menari dan bermain. Kita ambil sisi positifnya aja,mungkin dengan menyanyi dan menari mereka belajar mengapresiasi seni,dengan bergerak mereka melatih keseimbangan motorik dan berkonsentrasi,dengan bermain bersama mereka belajar bersosialisasi,berbagi dengan teman,dan mungkin masih banyak lagi tujuan bermain yang tidak kita tahu karena keterbatasan pengetahuan kita tentang bermain.Wong namanya juga play group jadi isinya ya bermain.Harusnya kita protes ketika sekolah PAUD atau play group bahkan TK apabila mereka membebani anak-anak dengan pembelajaran yang terlalu berat,seharusnya kondisi belajar dalam bermain masih didapat anak-anak kelas I SD,karena pada masa ini adalah masa transisi dimana anak mulai dikenalkan akan tanggung jawab belajar.

Banyak pakar mengatakan,”anak-anak akan mengalami kemandekan proses berpikir pada usia belia ketika sejak dini sudah dijejali dengan berbagai macam pembelajaran yang memeras kerja otak,salah satunya adalah pimpinan Super Lerning Indonesia,sebuah lembaga yang bergerak dibidang pendidikan yang mengenalkan sebuah sistem belajar yang menyenangkan (joyfull leaening). Kita tidak mau kan buah hati kita mengalami proses seperti itu???. Mulai sekarang berikanlah kebebasan belajar pada anak-anak usia dini,biarkanlah mereka belajar dalam bermain karena dunia mereka saat ini adalah bermain.Dengan demikian mereka akan tumbuh dengan rasa percaya diri,kreatif dan tidak terbelenggu.

Posted by: mastinmaya | May 14, 2008

PENDIDIKAN YANG TERBELENGGU

Kemarin seorang teman sedang berkeluh kesah,anaknya tiba-tiba sakit,suhu badan naik turun,padahal minggu depan dia menghadapi UAN.Ternyata hal ini tidak dialami teman saya seorang,anak diblok sebelah pun mengalami hal yang serupa,sakit panas mendadak.Mungkin masih banyak ibu-ibu lain yang juga panik karena anak-anak mereka tiba-tiba sakit menjelang ujian yang tinggal menghitung hari.

Teman saya mengatakan dia telah pergi kedokter,dan dokter bilang bahwa anaknya stresss dan kecapaian sehinnga butuh istirahat.Sebuah dilema,jika istirahat maka harus berhenti atau mengurangi porsi belajar,lalu bagaimana dengan ujiannya??? namun jika diteruskan juga tidak baikkondisinya.Bingung sekali dia…

Melihat hal ini saya jadi ikut gelisah. Ada sebuah pertanyaan besar dalam diri saya”mengapa hal ini bisa terjadi???”. Mengapa UAN menjadi momok yang sangat menakutkan baik bagi anak,orangtua maupun para pendidik,”ADA APA DENGAN PENDIDIKAN INDONESIA?!”. Jika memang proses pendidikan telah berlangsung dengan baik tidak akan ada anak-anak dan orangtua yang stresss,tidak akan ada pembocoran kunci jawaban atau kecurangan-kecurangan lain yang dilakukan pihak sekolah dan pihak-pihak lain terkait sebagaimana banyak dilansir oleh media.

Jika dilihat dalam kurikulum yang selalu berubah dari tahun ke tahun tapi semakin tidak jelas kemana arahnya,membuat saya ngeri membayangkan pendidikan macam apa yang akan dihadapi anak saya kelak.Apakah lebih baik dari yang saya dapatkan dulu atau kah dia semakinh terbelenggu denga berbagai kebijakan pemerintah yang tidak mendidik.Bayangkan saja,dari SD kelas I yang seharusnya merupakan masa transisi dari dunia bermain ke dunia belajar sudah banyak beban yg ditanggung.Berbagai materi dan tugas2 sudah menumpuk.Dan, beban ini akan terus berlangsung hingga mereka SMA.Namun sangat tidak adil,ketika penilaian prestasi akademik mereka hanya digantungkan pada 3 mata pelajaran saja,lalu untuk apa mereka belajar begitu banyak materi jika tidak diperhitungkan. Apakah mereka yang tidak bisa matematika adalah anak yang bodoh….,atau mereka ygang tidak menguasai bahasa Inggris atau Indonesia dengan baik adalah anak-anak yang gagal…

Dunia pendidikan seharusnya mencerdaskan generasi-generasi yang baru sehinnga menjadikan mereka anak-anak yang kreatif dan handal.Namun sepertinya hal ini masih merupakan angan-angan saja selama kebijakan pendidikan masih mengesampingkan pendidikan moral,pembentukan kepribadian dan penghargaan terhadap prestasi-prestasi seni,kreatifitas dan lainnya. Selama UAN sebagai barometer prestasi akademik masih menjadi momok maka selama itu pula kita terbelenggu dalam pendidikan yang tidak jelas.

Semoga ada saat pembuat kebijakan tersadar akan pentingnya pendidikan yang bisa membebaskan dari rasa takut,yang membebaskan kreatifitas,yang menghargai prestasi dibidang apapun.Karena dari dunia pendidikan yang benar akan lahir generasi-generasi handal yang akan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan korupsi,kolusi dan lain sebagainya.

Untuk anakku:

semoga bunda dan papa dapat memberikan apa yang terbaik untukmu

semoga pada masamu kelak,pendidikan akan lebih bersahabat:-)

Posted by: mastinmaya | May 9, 2008

KERJA SAMA YUK…

Sekarang saya tinggal diberau,kalimantan timur.Saya lagi mencoba usaha kecil-kecilan,yaitu membuka toko yang berkaitan dengan sprei&bed cover,fashion,mainan edukasi,dll.Disini banyak sekali potensi ekonomi yang tidak tergarap.Pasar disini sangat potensial banget,karena daya beli masyarakat tinggi tapi ketersediaan barang sangat terbatas.

Klo sobat-sobat ada yang berminat menjadi SUPLIER atau RESELLER silahkan ajukan penawaran kerjasama keemail saya:mastin.maya@gmail.com

Posted by: mastinmaya | May 9, 2008

BUAH HATIKU

Ya allah…

terima kasih telah Kau hadirkan dia ditengah kami

Semoga kami dapat menjaga amanah yang Kau berikan ini

Tersenyumlah nak…

Sambutlah kehidupanmu

Kami senantiasa mengiringi langkahmu

Posted by: mastinmaya | May 9, 2008

KARTINI-KARTINI YANG TERLUPAKAN

Bulan april selalu ramai dengan perbincangan tentang emansipasi wanita.Hampir semua media di Indonesia mengupas tentang wanita-wanita dan kiprahnya.Hal ini merupakan penghargaan terhadap R.A Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita dalam dunia pendidikan dan partisipasinya dalam ruang publik.Beraneka ragam perayaan dilakukan untuk mengenang beliau,dari lomba berkebaya hingga pemberian penghargaan terhadap wanita-wanita”sukses”.

Setiap kali membahas tentang “wanita-wanita sukses” seringkali yang tampil adalah figur-figur mereka yang aktif bekerja diruang publik,yang hampir tiap hari wira-wiri diinfotament.Jarang sekali kita ingat dan memberikan penghargaan pada ibu-ibu yang ada diruang domestik.Padahal peran mereka tidak kalah penting dengan yang aktif diruang publik.Dari tangan para ibu-ibu inilah anak-anak tumbuh dan belajar banyak hal,belum lagi mengatur ekonomi keluarga ditengah maraknya kenaikan harga barang. Sekalipun terlihat sepele,hal ini tidaklah mudah.Ada seorang Ibu yang saya kenal,bagi saya dia adalah wanita perkasa,bagaimana tidak,dia bersedia melakukan banyak hal dari mulai mencuci dan memasak untuk tetangga bahkan menjadi ojek antar jemput bagi anak tetangganya,untuk menambah penghasilan keluarga agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.Dan masih banyak lagi kisah-kisah perjuangan para ibu rumah tangga dalam meraih sukses keluarganya.

Namun sangat disayangkan seringkali mereka terlupakan setiap kali kita membahas “kartini-kartini masa kini”.Padahal sumbangsih mereka dalam mempersiapkan generasi baru yang berkualitas sangatlah besar.Bukankah mereka juga sangat gigih memperjuangkan pendidikan anak mereka sebagaimana Kartini memperjuangkan pendidikan bagi wanita.Sepatutnyalah mereka juga mendapatkan penghargaan karena dalam diri mereka ada semangat kartini.

Tulisan ini saya persembahkan untuk ibu saya dan semua ibu yang berjuang.Bagiku.kalian adalah potret kartini sejati.

Categories