Sudah lama banget nih gak nulis…tulisan ini terinspirasi dari sebuah acara yang diadakan oleh HR dan Persatuan Istri Karyawan(PERISKA) PT Berau Coal,tempat suami saya bekerja. Acaranya seminar tentang pola pengasuhan anak. Saat Bu Irene ,yang mengisi acara bertanya terhadap peserta seminar “barapa harga anak anda…???”saya hanya tersenyum menganggap hal itu sebagai joke namun penjelasan dibelakang pertanyaan itu membuat saya berpikir dan merefleksikan kembali tentang arti dan ukuran kasih sayang terhadap anak.
Jika mendapat pertanyaan seperti diatas, kita akan langsung menjawab “ANAK SAYA TAK TERNILAIĀ HARGANYA…”.Coba sekarang kita refleksi kembali bagaimana kita memperlakukan buah hati kita selama ini…benarkah kita sudah menjadikan mereka permata hati yang benar-benar tak ternilai dalam kehidupan kita atau tak ternilai itu berarti tak ada nilai apa-apa bagi kita..:-)
Kita eh maaf saya maksudnya,sering sekali mengalahkan kepentingan anak dengan hal-hal yang sebenarnya bis tunda.Misalnya ketika razan ingin dibacakan buku cerita atau ditemani nonton TV,saya akan tinggalkan dia sebentar apabila HP saya berbunyi untuk menjawab telepon atau membalas SMS yg tiba-tiba masuk,padahal hal itu bs dilakukan setelah menuntaskan bacaan lebih dulu. Atau apabila dia memecahkan gelas atau piring,saya akan marah..coba ada tetangga yang memecahkan piring saya,saya hanya akan berkata oh..gak papa,itu hanya sebagian contoh kecil saja,hayo ngaku ada yang sama gak…:-)
Hal yang sangat ekstrim,kita eh maaf salah lagi,saya maksudnya,kadang dengan mudah untuk memutuskan membeli perabot,perhiasan,tas,pakaian,kadang mainan juga yang harganya ratusan ribu bahkan sampai jutaan.Tetapi untuk membelikan kebutuhan anak akan pendidikan seperti buku-buku,ensiklopedi atau lainnya, kita,eh kita lagi,saya harus berpikir agak lama untuk memutuskan membeli,kadang-kadangpun dengan menggerutu berkepanjangan apabila sekolah mewajibkan hehehe.Padahal aneka media pendidikan tersebut sangat berarti bagi anak-anak tersebut.Media-mediat itu adalah alat untuk dia meraih ilmu yang menjadi bekal dia bertahan hidup kelak.
Dari contoh-contoh diatas jelas sekali kepentingan anak-anak terkalahkan oleh hal-hal yang semestinya tidak menang.Jika memang begitu adanya,lalu dimana letak harga tak ternilai bagi seorang nak???
Hari itu saya disadarkan dan mulai kembali belajar mengubah kebiasaan dalam mendampingi anak saya belajar dan membuat skala prioritas kepentingan.Semoga dengan berbagi tulisan ini,teman-teman yang seperti saya(dulu…) bisa terbuka juga dan kembali kejalan yang benar:-) Agar lebih menghayati dalam merefleksikan sikap kita kepada anak bisa dengan mendengarkan lagu dari MOCCA yang judulnya hanya satu pintaku:-)
Tuk razan…maafin bunda ya,jika selama ini sering mengesampingkan kamu,bunda janji,insya allah bunda akan menempatkan kamu menjadi permata hati bunda.
Bunda akan mendampingi dan memberikan semua media belajar yang kamu butuhkan.Semoga kamu menjadi generasi yang berakhlaq,tangguh,mandiri dan berpengetahuan sebagaiman doa yang kami titipkan dalan nama kamu “Razan Widya Reswara”..amin…


















